Ketika seseorang berusaha dengan daya upaya yang
paling oftimal, dan ternyata hasilnya masih jauh dari yang diinginkan,
maka betapa kecewanya. Ada satu hal yang penting untuk dihindari dan ada
satu hal yang perlu untuk dilakukan.
Satu hal yang
penting untuk dihindari adalah membiarkan diri kita larut, hanyut, dan
tenggelam ke dalam situasi dan meratapinya : mengapa bisa demikian?
Bukankah tidak hanya kita seorang saja di dunia ini yang merasakan
perasaan demikian? Hal itu bukan sebuah kesia-sian belaka, melainkan ada
kegunaan yang bisa dimanfaatkan, meskipun harus diakui bahwa menurut
perspektif manusia, tentulah tidak ada dari kita yang menginginkannya;
tidak ada yang ingin merasakannya; dan tidak ada yang ingin
mengalaminya, selain juga tidak boleh mengharapkannya.
Kita
dituntut untuk memilih kegunaan tertentu itu. Bukan malah balik
bertanya kepada dunia tentang apa gunanya atau malah memasang sikap
apatis yang menolak untuk menggali kegunaan selain yang sudah kita
rasakan. Penderitaan itu memang membuat manusia menderita, upset,
hopeless, distress, frustasi, dan seterusnya, tetapi soal untuk apa itu
akan kita gunakan, adalah pure pilihan kita. Semua itu pilihan kita, mau
digunakan untuk menghancurkan diri atau untuk pembangkit energi. Mau
dijadikan racun atau dijadikan obat – meski obat seringkali pahit
rasanya. Mau dijadikan bencana atau mau dijadikan lentera – pencerahan
jalan hidup.
Mengusahakan dan mewujudkan kegunaan
positif itu lebih sulit dari pada memilih kegunaan yang negatif. Untuk
mendapatkan hal-hal positif tentu dibutuhkan inisiatif. Namun untuk
mendapatkan hal-hal negatif hanya dibutuhkan pengabaian dan membiarkan.
Defining Moment
Salah
satu pilihan yang telah dipilih oleh sekian banyak orang adalah
menjadikan hal-hal buruk yang tidak diinginkannya sebagai ”defining
moment”. Artinya, penderitaan yang dialami, entah itu besar atau kecil,
dadakan atau berkepanjangan, dijadikan dorongan yang benar-benar tepat
(pil) untuk melakukan perubahan, perbaikan, audit, dan seterusnya.
Bahkan ada yang menjadikannya sebagai moment untuk menaikkan standar
prestasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Dalam kaitan
dengan pembahasan kita kali ini, mungkin kita perlu menjadikan
kenyataan buruk yang kita alami sebagai moment untuk meng-audit hal-hal
berikut:
1. Sasaran yang kita tetapkan Termasuk dalam
cakupan sasaran di sini antara lain: cita-cita, keinginan, tujuan,
target, dan seterusnya. Mengapa sasaran yang perlu diaudit? Jika kita
tidak punya sasaran, ibaratnya seperti orang bingung sedang jalan-jalan.
Jika kita punya sasaran tetapi telalu tinggi menurut ukuran riil kita,
kegoncangan akan muncul. Jika kita turunkan terlalu rendah menurut
ukuran riil kita, maka kemandekan mengancam. Supaya kegoncangan yang
kita alami tidak berkepanjangan, maka sasaran yang sudah kita teorikan
di kepala perlu diaudit, entah itu diturunkan sementara, diperbaiki,
diperjelas, dipendekkan, di-spesifik-kan, berdasarkan keadaan-diri kita
pada hari ini. Meskipun ini tidak mengubah kenyataan buruk sedikit pun,
tetapi kegoncangan batin yang kita alami sudah kita datangkan obatnya.
2.
Cara, strategi, kebiasaan yang kita pakai Hal lain yang perlu diaudit
adalah cara, strategi atau seperangkat kebiasaan yang biasa kita gunakan
selama ini untuk meraih sasaran yang kita inginkan dan ternyata masih
gagal. Menurut hasil renungan Napoleon Hill, kebanyakan kita gagal
usahanya bukan karena kita tidak mampu mewujudkan keberhasilan yang kita
inginkan, melainkan karena kita mempertahankan satu cara yang sudah
jelas-jelas gagal di lapangan. Bahkan jika dilihat dari penjelasan
firman Tuhan kepada kita semua, mempertahankan cara atau strategi yang
sudah nyata-nyata gagal dan menolak untuk mengais cara lain, termasuk
bukti dari keputusasaan kita terhadap rahmat-Nya, yang dalam bahasa
agama sering disebut sesat atau gelap.
Karena itu, yang
diperintahkan kepada kita adalah meyakini adanya pintu lain yang sudah
terbuka jika kita mendapati satu pintu yang tertutup. Sayangnya,
terkadang kita terlalu lama memandangi pintu yang sudah nyata-nyata
tertutup sehingga kita gagal menemukan pintu lain yang sudah terbuka.
Cara, strategi atau kebiasaan yang perlu diaudit, bukan semata yang
dalam bentuk fisik, melainkan yang lebih penting lagi, adalah cara
berpikir, strategi berpikir, kebiasaan berpikir atau sesuatu yang ada di
dalam batin kita. Jim Rohn berpesan: “Semua yang ada di luar dirimu
akan berubah jika kamu mengubah dirimu.” Hal ini karena semua kreasi
fisik, entah itu tindakan atau hasil tindakan, awalnya diciptakan dari
dalam batin kita (kreasi mental). Tindakan yang jitu lahir dari pikiran
yang jitu, tindakan yang masih meleset lahir dari pikiran yang belum
pas, kira-kira begitulah.
3. Orang, lingkungan atau
jaringan yang kita masuki Jika dalam bisnis perumahan ada kata pusaka
yaitu: lokasi, lokasi, dan lokasi, maka dalam meng-audit langkah atau
mengubah nasib kita, mungkin kata pusaka itu perlu diganti menjadi:
orang, orang dan orang. Orang, lingkungan dan jaringan yang kita masuki,
memang tidak membuat / mengubah kita menjadi apapun tetapi jika kita
ingin mengubah diri dalam arti yang luas, maka ini perlu mengubah
jaringan orang yang kita kenal, entah dengan cara menambah, mengurangi,
memperluas, memperdalam hubungan, dan lain-lain.
Dengan
mengubah jaringan orang yang kita kenal, maka ini akan menciptakan
jalan bagi perubahan pola berpikir, strategi, kepercayaan, kebiasaan,
pengetahuan, metode, dan seterusnya. Mungkin, saking pentingnya peranan
orang itu bagi kita, sampai-sampai ahli filsafat bisnis Amerika, Jim
Rohn, mengatakan: “Jika buku yang anda baca dan orang yang anda ajak
bergaul sama, maka dalam lima tahun ke depan, kemungkinan besar nasib
anda masih sama.” Untuk mengubahnya, sudah pasti membutuhkan modal,
tetapi modal di sini tidak mutlak identik dengan uang yang banyak atau
sejumlah modal yang saat ini tidak ada di tangan kita. Prakteknya sering
membuktikan bahwa orang yang perlu masuk dalam daftar “jaringan” itu
sudah disediakan Tuhan di sekeliling kita tetapi selama ini jarang kita
perhatikan, jarang kita bedakan, jarang kita telaah, dan jarang kita
gali.
Menjaga 3K Menjalani hidup memang berbeda seribu
derajat dengan membahas kehidupan. Dalam membahas kehidupan seperti
dalam tulisan ini, enak saja kita mengganti, mengubah dan meng-audit
langkah sekehendak kita, tetapi dalam menjalani, tentu saja tidak bisa
kita meng-audit dan mengubah sekehendak kita. Hemat saya, ada sedikitnya
tiga hal yang perlu dijaga seiring dengan keputusan kita untuk
meng-audit dan memperbaharui langkah, yaitu:
1.
Kebutuhan Kata orang yang sudah sering kita dengar, kebutuhan itu tidak
mengenal kata nanti, bahkan ampun pun tidak. Ungkapan lain mengatakan
bahwa lebih enak ngomong sama orang yang marah ketimbang ngomong sama
orang yang lapar. Ini semua menunjukkan bahwa kebutuhan itu tidak bisa
diganggu-gugat dan karena itu, agenda apapun yang akan kita jalankan,
hendaknya jangan sampai menganggu aktivitas kita dalam memenuhi
kebutuhan. Atau dengan kata lain, hendaknya kita tetap menjalankan
aktivitas yang sasarannya untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya tidak
bisa diganggu-gugat di tengah-tengah kesibukan kita memikirkan tiga hal
yang perlu diaudit di atas. Jika kebutuhan ini terancam, maka kita semua
sudah tahu akibatnya.
2. Keinginan Meskipun kebutuhan
itu tidak mengenal ampun dan kata nanti, tetapi jika pikiran ini terlalu
kita fokuskan hanya untuk kebutuhan, hanya apa adanya, tanpa visi,
tanpa imajinasi, tanpa cita-cita, tanpa keinginan, maka Mohamad Ali
mengibaratkan seperti seandainya bumi ini tanpa langit: kering dan
gelap. Marylin King, mantan seorang atlet, menyimpulkan: “ Astronot,
atlet dan eksekutif perusahaan memiliki tiga hal kembar. Mereka punya
sesuatu yang sangat berarti bagi mereka; sesuat yang benar-benar ingin
mereka lakukan. Kami menyebutnya gairah. Mereka memandang tujuan dengan
sangat jelas dan mengimajinasikannya secara ajaib sehingga tampak begitu
kuat dan mereka membayangkan dirinya menapaki langkah-langkah kecil
dalam perjalanan menuju tujuan itu. Kami menyebutnya visi. Akhirnya
mereka melakukan sesuatu setiap hari, sesuai dengan rencana yang akan
membawa mereka selangkah lebih dekat ke mimpi mereka. Kami menyebutnya
aksi.” Artinya, selain kita perlu memprogam aktivitas yang sasarannya
kebutuhan, kita pun perlu memprogram aktivitas yang sasarannya adalah
mewujudkan keinginan (visi, cita-cita, dst) yang belum terwujud atau
beru terwujud sebagian, agar tidak kering dan gelap (demotivator dan
apatis), seperti bagaikan bumi tanpa langit, bagaikan burung tanpa
sayap, bagaikan mobil yang rodanya terpendam lumpur “kebutuhan”.
3.
Kelancaran Tak cukup sepertinya jika kita hanya memprogram aktivitas
yang kita lakukan hari ini semata untuk sasaran kebutuhan dan keinginan.
Ada satu hal lain yang perlu kita programkan, yaitu mengatasi
masalah-masalah, entah itu tehnis, hubungan, dan lain-lain yang
kedatangannya tidak diundang. Membiarkan masalah, bukan berarti
menghilangkan masalah.Tetapi jika kita mengerahkan seluruh pikiran dan
aktivitas kita hanya untuk mengurusi masalah, maka keinginan dan
kebutuhan kita akan yatim, yang juga masalah. Jadi, menurut nasehat
Anthony Robbins, gunakan 10 % saja untuk memikirkan masalah (what and
why), lalu gunakan sisanya untuk memikirkan pemecahan masalah (how).
Tenggelam dalam memikirkan masalah, justru malah akan membuat kita
bermasalah. Nasehat lain bisa kita dengarkan dari Brian Tracy, seorang
konsultan SDM, yang mengatakan: “bukan dimana saat ini kita berada; yang
menentukan kita, melainkan ke mana langkah ini akan kita gerakkan.”
Masalah tidak membuat kita keman-mana tetapi apa yang akan kita lakukan
terhadap masalah itu akan menentukan di manan nanti kita berada. Dengan
belajar menjalani tiga hal di atas, minimal kita tidak perlu bertengkar
dengan kenyataan yang ada di hadapan kita, pun juga kita tidak tenggelam
di dalam kenyataan itu, serta tidak terhanyut ke dalam memikirkan
masalah siang dan malam. Sekali lagi perlu kita ingat, ini baru membahas
kehidupan, belum masalah menjalani kehidupan. Selamat menjalankan.