Ada kekuatan di dalam cinta,
Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan keinginannya
Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan,
Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan.
Ada kekuatan di dalam kedamaian diri
Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah tergoyahkan
Dan tidak mudah diombang-ambingkan.
Ada kekuatan di dalam kesabaran,
Orang yang sabar adalah orang yang kuat
Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu
Dan ia tidak pernah merasa disakiti.
Ada kekuatan di dalam kemurahan,
Orang yang murah hati adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya
Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.
Ada kekuatan di dalam kebaikan,
Orang yang baik adalah orang yang kuat
Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang .
Ada kekuatan di dalam kesetiaan,
Orang yang setia adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi
Dengan kesetiaannya kepada sesama.
Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan,
Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat
Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.
Ada kekuatan di dalam penguasaan diri,
Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.
............
Sadarkah teman bahwa engkau juga memiliki cukup
Kekuatan untuk mengatasi segala permasalahan dalam hidup ini?
Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga.
Karena pencobaan tidak akan pernah dibiarkan melebihi kekuatan kita.
Menjadi Tanda KehadiranNya
Sebuah Alkitab, buku harian, bacaan rohani dan
jenis buku lainnya, sering ditemukan ada pembatas bukunya. Entah itu
berupa foto, gambar, kartu ucapan selamat atau yang lainnya. Ada sekian
banya jenis pembatas buku. Namun seringkali sebuah pembatas buku itu
sederhana. Tapi juga ada yang sungguh-sungguh berharga, terbuat dari
bahan yang tidak murah. Lalu sebenarnya, apa fungsi dari pembatas buku
itu? Apakah hanya sekedar untuk membatasi, atau memberi tengara kalau
kita membacanya sampai di halaman yang terdapat pembatas buku? Atau
adakah maksud lain yang hendak di tengarai oleh pembatas buku itu. Atau
ada maksud lain yang ingin disingkapkan?
Sebuah pembatas buku kadang tidak langsung dimengerti oleh penerimanya. Bahkan tak jarang meremehkannya. Padahal kalau dicermati secara seksama, sebuah pembatas buku yang kelihatannya remeh dan kecil sekalipun, ternyata menyimpan makna yang mendalam. Meski sederhana, pembatas buku mengingatkan akan suatu adanya kenangan yang indah, yang kadang mengingatkan kita pada si pemberinya atau menghadirkan si pemberinya.
Ketika Yesus hendak meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa, Yesus ternyata meninggalkan suatu kenangan bagi para muridNya. Suatu kenangan yang diwujudkan dalam perjamuan persahabatan, yakni diriNya sendiri yang menjadi santapan dan minuman. Yohanes mengemukakan bagaimana Yesus berbicara tentang diriNya dengan ungkapan “Akulah roti hidup…barang siapa makan dagingku dan minim darahku, ia mempunyai hidup kekal.” (Yoh 6:51-54).
Pengungkapan tentang pemberian diri Yesus itu tidaklah langsung dapat dimengerti dan diterima oleh orang-orang di sekitarNya. Bahkan malah menimbulkan pertentangan serta kegoncangan pandangan atau keyakinan. Yesus memperoleh cibiran atau sungutan dari orang-orang Yahudi. Dalam ayat 52 diungkapkan bahwa mereka saling bertengkar. Mereka sungguh-sungguh tidak dapat menerima bahwa dagingNya dapat dimakan. Sebab harus diakui bahwa belum pernah terjadi di lingkungan orang Yahudi yang menyatakan perlunya masyarakat makan daging dan minum darahnya. Yesus lah satu-satunya orang yang berani mengungkapkannya.
Bertolak dari situasi yang demikian, Yesus tidaklah putus asa. Ia justru semakin tegas bersaksi tentang diriNya. Ia berkali-kali menegaskan bahwa kata-katanya tidaklah main-main. Ia mendahului dengan ungkapan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya…” untuk menyatakan bahwa ia sungguh roti hidup. Memang bisa dimengerti penilaian bahwa ungkapan Yesus pada ayat 60 itu keras. Istilah makan yang dimaksudkan oleh Yesus dalam ay.53, bukan makan dan minum yang dipahami oleh kalangan Yahudi, yakni mengunyah manna seperti nenek moyang mereka, sehingga hanya rasa kenyang yang ingin dicapai. Namun lebih pada ‘mengunyah’ Yesus sendiri -dagingNya sendiri sebagai sunguh-sungguh santapan dan darahnya sendiri sebagai minuman- Memang bernada kiasan. Makan daging dan minum darah Yesus searti dengan menyatukan diri -melalui tindakan makan dan minum- dengan Dia, sehingga yang dicapai: hidup.
Kata ‘hidup’ dalam ungkapan “..mempunyai hidup dalam dirimu..” (ayat 53), ini dihubungkan oleh Yesus dengan diriNya sendiri, yang tidak mengacu kepada hidup fisik, melainkan hidup dalam persatuan denganNya, seperti persatuanNya dengan Bapa. Paulus, melalui pertobatannya (Kis 9:1-20), ia sungguh-sungguh merasakan dapat bersatu dengan Allah..Hidup bersatu dengan Yesus yang dimaksud di sini, kembali ditegaskan dalam ayat 54, yakni sebagai hidup yang kekal: hidup lestari yang tak akan berkesudahan, dan bahkan akan dimahkotai dengan pembangkitan oleh Yesus (bdk.ay.40).
Lalu, bagaimana kita dapat sampai pada penghayatan akan Roti hidup yang tak sekedar tanda semata? Bila kita makan dan minum maka menimbulkan suatu perubahan, yakni kenyang. Demikianlah dengan, bila kita mengunyah Yesus sendiri, hidup bersatu dengan Yesus, perubahan yang terjadi yakni sungguh-sungguh mampu menampilkan hidup Yesus. Seorang pastor memberikan nasihat kepada para fraternya agar, ‘mampu membawa hati Yesus kepada umat yang kita jumpai.’ Kehadiran kita di tengah keanekaragaman kepercayaan bukanlah untuk menjadi yang pertama, lebih mementingkan popularitas diri, melainkan untuk mempopulerkan Hati Yesus agar meraja di hati orang-orang yang kita jumpai. Kita bisa juga meneladan Paulus yang karena kedasyatan kuasa Allah yang menghendakinya untuk dijadikan alat Tuhan, ia lalu bertobat dari kekelaman hidupnya.Ada sebuah kisah yang menarik untuk diambil hikmahnya.
Suatu kali saya berlibur di rumah bude. Saya sengaja memiilih hari Sabtu, Minggu dan Senin, dengan maksud agar saya dapat mengikuti perayaan Ekaristi hari Minggu di Gereja stasi sekitar itu. Karena saya tidak tahu arah jalan ke Gereja, maka bude yang adalah seorang Kristen Protestan memberitahu agar saya berangkat bersama dengan Mbah Sayem (seorang nenek yang sudah lanjut usianya dan kencot Jawa=cacat pada kaki- ). Bude menyampaikannya hal itu kepada Mbah Sayem, dengan maksud agar Mbah Sayem membonceng saya dengan sepeda motor bude saya..
Mbah Sayem ternyata langsung menimpali “Lho apa ponakane njenengan iku wis nggak pernah mlaku adoh?” (“Lho apakah keponakanmu [saya] sudah tidak pernah berjalan jauh?) dan seterusnya. Saya terhenyak mendengar ungkapan Mbah Sayem. Bagi saya ungkapan itu cukup mendalam. Tetapi rasio saya juga seolah ingin melawan rasa itu : tidakkah yang sebenarnya tidak atau kurang mampu untuk berjalan jauh itu adalah Mbah Sayem? Tetapi mengapa ungkapan itu ditujukan kepada saya, seorang yang masih muda dan kuat?
Tidak Ada yang Sia-Sia
Optimisme adalah memandangg hidup ini sebagai
persembahan terbaik. Tidak ada sesuatu yg terjadi begitu saja &
mengalir sia-sia. Smua pasti ada tujuan, ada maksud. Tetapi, mungkin
saja kita mengalami pengalaman buruk yg tak mengenakkan. Kita bisa
mencermati bahwa keburukan itu hanyalah karena kita melihat dari salah
satu sisi mata uang saja. Bila kita berani menengok ke sisi yg lain,
kita akan menemukan pemandangan yg jauh berbeda.
Kita tidak harus menjadi orang yang selalu tersenyum terus, atau menampakkan wajah yg ceria. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. So....Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dg mengerutkan alis.Setiap tetes air yg keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau & muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes air tahu, suatu saat panas & angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk gunung. Menjadi awan & menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur. Sebagian kembali ke laut.
Adakah sesuatu yg sia-sia dari setiap tetes air yg anda temui di selokan rumah kita?
Kita tidak harus menjadi orang yang selalu tersenyum terus, atau menampakkan wajah yg ceria. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. So....Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dg mengerutkan alis.Setiap tetes air yg keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau & muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes air tahu, suatu saat panas & angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk gunung. Menjadi awan & menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur. Sebagian kembali ke laut.
Adakah sesuatu yg sia-sia dari setiap tetes air yg anda temui di selokan rumah kita?
Elisabeth 317
Adalah sebuah Paviliun di rumah sakit Panti
Rapih. Paviliun itu ada 4 lantai. Bila diawali dengan angka 3 berarti
paviliun itu lantai tiga. Elisabeth 317 , berarti paviliun Elisabeth
lantai 3 nomer 17. Nomer ini adalah kamar paling ujung, kalau dilihat
dari pos penjagaan para perawat di Elisabeth 3. Ruangan Elisabeth 317
sangat khas.
Saat itu, bila Anda masuk pasti disambut oleh 'ocehan' seorang kakek yang usianya lebih dari 80 tahun. Kakek itu bernama Hadi Pawiro dan katanya sakit diare, tapi ternyata itu sakit ketuaan. 'Ya...biasalah kalau sudah tua pasti ada saja penyakitnya, itu kata orang-orang yang menunggu kakek itu. Di samping Mbah Hadi, sebut saja demikian, ada seorang pemuda dari Riau yang sakit DHF. Trombosit terakhirnya adalah 23. Maka ia sangat khawatir dengan darah yang telah keluar dari hidung (mimisan) dan juga dari ujung-ujung kuku, baik kaki maupun tangannya.
Di sampingnya lagi adalah seorang Bapak tengah baya. Ia sakit jantung. Tentang kondisinya aku tidak begitu tahu. Dua hari setelah aku berada di kamar itu ia pamit pulang. Tentu ini atas izin dokter.Bapak itu ternyata disusul oleh seorang anak smu. Dia terkena sakit DB. Wajahnya memerah dan seperti orang yang kebanyakan tidur. Yach apa pun situasinya kini berada di depan bed tidurku. Aku harus melihatnya setiap saat. Dia kin menjadi temanku dalam situasi yang sama, yakni sakit.
Sementara aku sudah merasa mulai sedikit membaik. Trombosit yang telah diperiksa kian naik. Itu pertanda bhawa ngga lama lagi aku pasti segera meninggalkan 317 dan nikmati suasana biara.
Penantian panjang di kamar 317 amat membosankan. Rasanya hidup terlalu sempit. Namun itu tidak membuatku putus asa. Ada asa yang tampaknya menjadi spirit bagiku, sehingga aku juga harus dan dapat menikmatinya. Pengalaman perjumpaan dengan orang-orang yang perhatian padaku menyadarkan aku bahwa Allah mengasihi aku.Apa yang ku alami sekiranya belum sebanding dengan yang dialami oleh Tuhan Yesus dalam kenosisNya. Dia akhirnya pun mengalami kemuliaan karena BapaNya menerima penyerahan diriNya. So....aku ingin melibatkan deritaku dengan derita Yesus, sehingga aku juga boleh menikmati kemuliaanNya.
Akhirnya....penantianku berujung pula. Aku diperkenankan oleh dokter untuk meninggalkan kamar 317. Derita itu berujung dengan harapan dan kegembiraan. Tuhan Yesus mendengarkan seruan batinku. Terimakasih Tuhan Yesus Sang tabib surgawi. Jamahanmu memberikan kesembuhan bagiku. Biarlah kegembiraan ini juga menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku.
Tiba-tiba datanglah konfraterku Fr. Joko. Ia bermaksud menjengukku. So...sekalian saja aku mau bareng pulang.
Saat itu, bila Anda masuk pasti disambut oleh 'ocehan' seorang kakek yang usianya lebih dari 80 tahun. Kakek itu bernama Hadi Pawiro dan katanya sakit diare, tapi ternyata itu sakit ketuaan. 'Ya...biasalah kalau sudah tua pasti ada saja penyakitnya, itu kata orang-orang yang menunggu kakek itu. Di samping Mbah Hadi, sebut saja demikian, ada seorang pemuda dari Riau yang sakit DHF. Trombosit terakhirnya adalah 23. Maka ia sangat khawatir dengan darah yang telah keluar dari hidung (mimisan) dan juga dari ujung-ujung kuku, baik kaki maupun tangannya.
Di sampingnya lagi adalah seorang Bapak tengah baya. Ia sakit jantung. Tentang kondisinya aku tidak begitu tahu. Dua hari setelah aku berada di kamar itu ia pamit pulang. Tentu ini atas izin dokter.Bapak itu ternyata disusul oleh seorang anak smu. Dia terkena sakit DB. Wajahnya memerah dan seperti orang yang kebanyakan tidur. Yach apa pun situasinya kini berada di depan bed tidurku. Aku harus melihatnya setiap saat. Dia kin menjadi temanku dalam situasi yang sama, yakni sakit.
Sementara aku sudah merasa mulai sedikit membaik. Trombosit yang telah diperiksa kian naik. Itu pertanda bhawa ngga lama lagi aku pasti segera meninggalkan 317 dan nikmati suasana biara.
Penantian panjang di kamar 317 amat membosankan. Rasanya hidup terlalu sempit. Namun itu tidak membuatku putus asa. Ada asa yang tampaknya menjadi spirit bagiku, sehingga aku juga harus dan dapat menikmatinya. Pengalaman perjumpaan dengan orang-orang yang perhatian padaku menyadarkan aku bahwa Allah mengasihi aku.Apa yang ku alami sekiranya belum sebanding dengan yang dialami oleh Tuhan Yesus dalam kenosisNya. Dia akhirnya pun mengalami kemuliaan karena BapaNya menerima penyerahan diriNya. So....aku ingin melibatkan deritaku dengan derita Yesus, sehingga aku juga boleh menikmati kemuliaanNya.
Akhirnya....penantianku berujung pula. Aku diperkenankan oleh dokter untuk meninggalkan kamar 317. Derita itu berujung dengan harapan dan kegembiraan. Tuhan Yesus mendengarkan seruan batinku. Terimakasih Tuhan Yesus Sang tabib surgawi. Jamahanmu memberikan kesembuhan bagiku. Biarlah kegembiraan ini juga menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku.
Tiba-tiba datanglah konfraterku Fr. Joko. Ia bermaksud menjengukku. So...sekalian saja aku mau bareng pulang.
MENDENGARKAN: Mencintai dengan Sederhana
Seorang pendamping anak-anak Panti Asuhan (PA)
merasa tidak nyaman, tidak krasan, tidak bisa tinggal di PA, dengan
alasan karena anak-anaknya reseh, crewet, sulit diatur dst.
Sebuah keluarga atau bahkan lebih dari satu keluarga kristiani mengalami broken dan akhirnya mencari solusi untuk pisah ranjang atau mungkin cerai.Tidak sedikit biarawan/i, pastor yang menjadi batu sandungan bagi umat di tempat tugasnya, sehingga umat tidak menerimanya, umat menolaknya dst. Ujung-ujungnya memutuskan untuk meninggalkan kebiarawanan, kepastorannya dst.
Tidak sedikit pula komunitas-komunitas religius yang mengalami situasi suwung, sumpek, sehingga membuat yang tinggal di dalamnya tidak betah. Dan masih banyak lagi situasi yang kurang lebih serupa.
***
Salah satu akar
permasalahan dari stuasi-stuasi yang tersebutkan tadi adalah karena
minimnya sikap mau mendengarkan. Orang cenderung ngomong dan banyak
ngomong. Ada kemungkinan tanpa disadari bahwa omongannya tidak
didengarkan karena ia menjadi orang yang sulit untuk mendengarkan.
Mendengarkan merupakan suatu pilihan sikap aktif untuk bersedia terlibat dengan gerak batin orang lain. Dengan mendengarkan berarti orang mau terbuka kepada partnernya. Dalam sikap mendengarkan terungkap adanya hubungan saling mengenal, adanya sebuah relasi batin, sehingga terbentuklah hubungan hidup yang saling mendukung untuk berkembang.
Inilah yang tampaknya “dituntut” oleh seorang murid Kristus. Inilah yang tampaknya dituntut oleh Yesus kepada para pengikutnya, yaitu sikap mau mendengarkan. Mendengarkan sabda Tuhan berarti terbuka bagi sabda Tuhan dan menyerahkan diri sebagai milik Tuhan. Dengan demikian Tuhan mengenalnya sebagai domba piaraanNya dan menaruh cinta dan perhatian keapadanya, sehingga tidak ada yang mungkin merebut hidupnya dari tangan Gembala. Hanya kalau domba memang sengaja mau pergi, ia akan menjadi doba yang hilang.
***
Mendengarkan merupakan sebuah modal untuk mencintai orang lain dengan sederhana.
Sebuah keluarga atau bahkan lebih dari satu keluarga kristiani mengalami broken dan akhirnya mencari solusi untuk pisah ranjang atau mungkin cerai.Tidak sedikit biarawan/i, pastor yang menjadi batu sandungan bagi umat di tempat tugasnya, sehingga umat tidak menerimanya, umat menolaknya dst. Ujung-ujungnya memutuskan untuk meninggalkan kebiarawanan, kepastorannya dst.
Tidak sedikit pula komunitas-komunitas religius yang mengalami situasi suwung, sumpek, sehingga membuat yang tinggal di dalamnya tidak betah. Dan masih banyak lagi situasi yang kurang lebih serupa.
***
![]() |
| berusaha mendengarkan |
Mendengarkan merupakan suatu pilihan sikap aktif untuk bersedia terlibat dengan gerak batin orang lain. Dengan mendengarkan berarti orang mau terbuka kepada partnernya. Dalam sikap mendengarkan terungkap adanya hubungan saling mengenal, adanya sebuah relasi batin, sehingga terbentuklah hubungan hidup yang saling mendukung untuk berkembang.
Inilah yang tampaknya “dituntut” oleh seorang murid Kristus. Inilah yang tampaknya dituntut oleh Yesus kepada para pengikutnya, yaitu sikap mau mendengarkan. Mendengarkan sabda Tuhan berarti terbuka bagi sabda Tuhan dan menyerahkan diri sebagai milik Tuhan. Dengan demikian Tuhan mengenalnya sebagai domba piaraanNya dan menaruh cinta dan perhatian keapadanya, sehingga tidak ada yang mungkin merebut hidupnya dari tangan Gembala. Hanya kalau domba memang sengaja mau pergi, ia akan menjadi doba yang hilang.
***
Mendengarkan merupakan sebuah modal untuk mencintai orang lain dengan sederhana.
Tujuh Komponen untuk Hidup Bahagia
Tidak seorangpun dapat kembali ke awal dan membuat permulaan yang
baru, tetapi setiap orang dapat memulai dari sekarang dan membuat akhir
yang baru.
Tuhan tidak menjanjikan hari hari tanpa sakit, tawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi Ia menjanjikan kekuatan untuk hari itu, penghiburan atas air mata dan cahaya dalam perjalanan hidup kita.
Kekecewaan adalah seperti lubang di jalan, yang sedikit memperlambat mu, tetapi kemudian engkau menikmati jalan yang mulus. Jangan tinggal di lubang terlalu lama. Maju terus!
Jika engkau kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, duduklah tegak dan berbahagialah, karena Tuhan sudah memikirkan sesuatu yang lebih baik untuk diberikan padamu.
Jika sesuatu terjadi padamu, baik ataupun buruk, pertimbangkan apa artinya. Ada tujuan pada setiap kejadian dalam hidup, untuk mengajarkanmu bagaimana lebih banyak tertawa atau tidak menangis tersedu sedu.
Engkau tidak bisa membuat seseorang mencintaimu, yang dapat kau lakukan adalah menjadi seseorang yang dapat dicintai, selebihnya terserah pada orang itu untuk menyadari nilaimu."
Jangan mengabaikan teman lama. Engkau tidak akan menemukan orang yang dapat menggantikannya. Persahabatan itu seperti anggur, Semakin tua semakin baik.
Tuhan tidak menjanjikan hari hari tanpa sakit, tawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi Ia menjanjikan kekuatan untuk hari itu, penghiburan atas air mata dan cahaya dalam perjalanan hidup kita.
Kekecewaan adalah seperti lubang di jalan, yang sedikit memperlambat mu, tetapi kemudian engkau menikmati jalan yang mulus. Jangan tinggal di lubang terlalu lama. Maju terus!
Jika engkau kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, duduklah tegak dan berbahagialah, karena Tuhan sudah memikirkan sesuatu yang lebih baik untuk diberikan padamu.
Jika sesuatu terjadi padamu, baik ataupun buruk, pertimbangkan apa artinya. Ada tujuan pada setiap kejadian dalam hidup, untuk mengajarkanmu bagaimana lebih banyak tertawa atau tidak menangis tersedu sedu.
Engkau tidak bisa membuat seseorang mencintaimu, yang dapat kau lakukan adalah menjadi seseorang yang dapat dicintai, selebihnya terserah pada orang itu untuk menyadari nilaimu."
Jangan mengabaikan teman lama. Engkau tidak akan menemukan orang yang dapat menggantikannya. Persahabatan itu seperti anggur, Semakin tua semakin baik.
Kerendahatian
Mengenali diri sendiri membuat kita berlutut dalam kerendahan
hati.(Catatan Bunda Teresa dari Kalkuta tentang cara untuk rendah hati)
Mengurus urusan sendiri.
Tidak ingin mencampuri urusan orang lain.Menghindari rasa ingin tahu.
Menerima pertentangan dan kritik dengan senang hati.
Tidak mengingat-ingat kesalahan orang lain.
Menerima apabila dihina dan disakiti.
Menerima apabila diabaikan, dilupakan dan dibenci.
Tidak berusaha agar dikasihi dan dikagumi secara istimewa.
Lemah lembut dan ramah bahkan andai orang memancing amarah kita.
Tidak pernah menuntut agar dihargai.
Mengalah dalam perdebatan bahkan andai kita benar.
Selalu memilih yang tersulit.
Mengurus urusan sendiri.
Tidak ingin mencampuri urusan orang lain.Menghindari rasa ingin tahu.
Menerima pertentangan dan kritik dengan senang hati.
Tidak mengingat-ingat kesalahan orang lain.
Menerima apabila dihina dan disakiti.
Menerima apabila diabaikan, dilupakan dan dibenci.
Tidak berusaha agar dikasihi dan dikagumi secara istimewa.
Lemah lembut dan ramah bahkan andai orang memancing amarah kita.
Tidak pernah menuntut agar dihargai.
Mengalah dalam perdebatan bahkan andai kita benar.
Selalu memilih yang tersulit.
Terrrr, Main Yuuuk!
Itulah salah satu litani anak-anak SD kelas III,
seusia 8 - 9 tahun yang pernah kudampingi. Memang harus kuakui bahwa
anak-anak seusia itu pada umumnya sangat gemar untuk bermain. Satu hal
yang tak pernah terlewatkan bahwa aku selalu menghadiahkan kepada mereka
pada setiap kesempatan bertemu dengan sebuah lagu atau permainan yang
sungguh baru bagi mereka, sehingga mereka merasa bersemangat untuk
belajar bersama. Salah satu yang juga disukai oleh mereka adalah tanya
jawab. Barang kali inilah salah satu keunggulan mereka dibanding dengan
anak-anak yang lain di luar sekolah ini khususnya. Namun sebagai guru
yang juga belajar bijaksana, maka aku juga mencoba untuk memahami sejauh
mana mereka akan bertahan dalam keseriusan soal bertanya jawab. Maka
dengan agak kreatif, aku mgajak mereka untuk bermain bersama.
Ketika bahan pelajaran agama Katolik telah selesai, maka mereka sangat antusias untuk minta diadakan tanya jawab. Saat itu mereka kuajak untuk bermain dengan permainan pembentukan kelompok.
Pertama-tama kami tentukan peraturan permainannya yakni :anak laki-laki semua dihargai 100, kecuali anak laki-laki yang memakai jam tangan mereka dihargai 150 dan anak laki-laki yang berkacamata dihargai 125. Sedangkan anak perempuan semua dihargai 125, kecuali yang memakai tali rambut atau bandu mereka dihargai 175 dan anak perempuan yang memakai jam tangan dihargai 150.
Setelah semuanya memahami peraturan permainan itu, maka kami memulai untuk bermain. Ketika kusebut sebuah harga, misalnya 375 maka masing-masing harus berusaha untuk membuat sebuah kelompok seharga yang kusebutkan itu. Bila ada peserta yang tidak memperoleh atau tidak berhasil membentuk kelompok maka ia harus keluar dari arena permainan. Pertama kali kusebutkan sebuah harga, mereka tampaknya dengan cepat mampu membentuk sebuah kelompok. Dalam hati aku berkata, wah alangkah jeli dan cermatnya mereka. Kedua kalinya kusebutkan, merekapun mampu untu membentuk sebuah kelompok, demikianpun selanjutnya dengan semakin cepat dan cepat. Suasana ruangan kelas sangat iuh dan gaduh. Waaaah jangan-jangan nanti mengganggu kelas sebelah. Eeee belum ada lima menit hatiku bergejolak, tiba-tiba datanglah seorang ibu guru dari kelas sebelah untuk melihat kelas kami. Ibu itu menggelengkan kepala. Aku yakin bahwa ia sangat jengkel.
Maka untuk menghindari agar tidak terdengar sangat ribut, aku menutup pintu kelas itu. Nah bila seperti ini pasti akan sedikit teredam suara anak-anak yang dengan leluasa tertawa dan berteriak, berinteraksi untuk mencari dan membentuk sebuah kelompok bila di sebut sebuah harga olehku.
Karena aku tahu bahwa mereka akan merasa kecapaian, maka aku mengajak mereka untuk mengakhiri permainan itu dan mempersilahkan untuk minum-minum dan bila yang ingin kebelakang biarlah ke belakang. Tiba-tiba ketika sekelompok anak yang ingin ke belakang, pintu kelas itu tak dapat dibukanya.
Ter... tolong batuin bukakan pintunya.
Akupun dengan segera menuju ke pintu untuk mecoba membukakan pintu itu.Waah sulit sekali.
Apakah tadi ada yang menguncinya?
Tak seorang anakpun yang mengatakan mengunci pintu itu. Itu berarti pintu ini terkunci dengan sendirinya. Tahu bahwa usahaku tak berhasil untuk membuka pintu itu, maka ada seorang anak yang berteriak keras
Ter.. kita nggak bisa pulang nanti.
Ya Ter.
Ya Ter..
Semakin banyak anak ynag juga ikut berteriak. Bahkan ada yang sungguh sampai menangis dan berteriak Frater gimana kalau kita tak bisa keluar?
Tenanglah, kita pasti akan bisa keluar.
Sebagian besar dari mereka justru semakin panik dan menjerit. Aku pun sempat merasa panik waah anak-anak tampaknya mersa sungguh ketakutan. Maka aku mencoba teriak ke luar kelas minta tolong.
Tolong...tolong!!Tiba-tiba datanglah guru sebelah yang tadi sempat jenggkel melihat kami bermain serta dua orang bapak guru lainya yang mendengar teriakanku minta tolong. Usaha keras bapak-bapak dan ibu guru itu pun tak membuahkan hasil.
Waaah ini tampaknya sulit untuk dibuka dan barangkali kita harus memaksanya untuk membuka.Mendengar seruan para guru yang berusaha untuk membukakan pintu itu, anak-anak semakin bertambah panik.
Mamaa...Mamaaa....Mamaaaaaa..Aku nggak bisa keluaaaar, tolong maaaaaaaa!!!
Situasi semakin gaduh dan panik. Lalu tiba-tiba datang dua orang satpam sekolahan itu dengan membawa linggis dan palu. Kedua satpam itu datang dengan berlari.Tolong paak! Tolooooong!
Tolong paaak!
Itulah teriakan anak-anak yang tampaknya sungguh semakin ketakutan bak para korban yakni saudara saudara kita yang ada di Bali saat itu, yang terperangkap dalam sebuah ruangan ketika gempa bumi yang berskala 6,1 mengguncang desa dan terlebih tempat tinggal mereka. Ketika pintu berhasil dibuka oleh bapak-bapak satpam yang baik hati itu, bersamaan itu pula kurang lebih 9 sembilan anak yang termasuk njerit-njerit tadi terhempas bergulingan saling menimpa, sebab ketika para satpam tadi berusaha untuk membukanya, mereka tampaknya berusaha untuk mendorong pintu itu. Namun tak satu dari kesembilan anak itu yang merasa kesakitan, namun justru tertawa puas.Mengapa mereka tertawa puas?
Mereka lebih bahagia karena apa yang membelenggunya kini terlepaskan, rasa sakitpun sampai-sampai tak tersasakan.
Ketika bahan pelajaran agama Katolik telah selesai, maka mereka sangat antusias untuk minta diadakan tanya jawab. Saat itu mereka kuajak untuk bermain dengan permainan pembentukan kelompok.
Pertama-tama kami tentukan peraturan permainannya yakni :anak laki-laki semua dihargai 100, kecuali anak laki-laki yang memakai jam tangan mereka dihargai 150 dan anak laki-laki yang berkacamata dihargai 125. Sedangkan anak perempuan semua dihargai 125, kecuali yang memakai tali rambut atau bandu mereka dihargai 175 dan anak perempuan yang memakai jam tangan dihargai 150.
Setelah semuanya memahami peraturan permainan itu, maka kami memulai untuk bermain. Ketika kusebut sebuah harga, misalnya 375 maka masing-masing harus berusaha untuk membuat sebuah kelompok seharga yang kusebutkan itu. Bila ada peserta yang tidak memperoleh atau tidak berhasil membentuk kelompok maka ia harus keluar dari arena permainan. Pertama kali kusebutkan sebuah harga, mereka tampaknya dengan cepat mampu membentuk sebuah kelompok. Dalam hati aku berkata, wah alangkah jeli dan cermatnya mereka. Kedua kalinya kusebutkan, merekapun mampu untu membentuk sebuah kelompok, demikianpun selanjutnya dengan semakin cepat dan cepat. Suasana ruangan kelas sangat iuh dan gaduh. Waaaah jangan-jangan nanti mengganggu kelas sebelah. Eeee belum ada lima menit hatiku bergejolak, tiba-tiba datanglah seorang ibu guru dari kelas sebelah untuk melihat kelas kami. Ibu itu menggelengkan kepala. Aku yakin bahwa ia sangat jengkel.
Maka untuk menghindari agar tidak terdengar sangat ribut, aku menutup pintu kelas itu. Nah bila seperti ini pasti akan sedikit teredam suara anak-anak yang dengan leluasa tertawa dan berteriak, berinteraksi untuk mencari dan membentuk sebuah kelompok bila di sebut sebuah harga olehku.
Karena aku tahu bahwa mereka akan merasa kecapaian, maka aku mengajak mereka untuk mengakhiri permainan itu dan mempersilahkan untuk minum-minum dan bila yang ingin kebelakang biarlah ke belakang. Tiba-tiba ketika sekelompok anak yang ingin ke belakang, pintu kelas itu tak dapat dibukanya.
Ter... tolong batuin bukakan pintunya.
Akupun dengan segera menuju ke pintu untuk mecoba membukakan pintu itu.Waah sulit sekali.
Apakah tadi ada yang menguncinya?
Tak seorang anakpun yang mengatakan mengunci pintu itu. Itu berarti pintu ini terkunci dengan sendirinya. Tahu bahwa usahaku tak berhasil untuk membuka pintu itu, maka ada seorang anak yang berteriak keras
Ter.. kita nggak bisa pulang nanti.
Ya Ter.
Ya Ter..
Semakin banyak anak ynag juga ikut berteriak. Bahkan ada yang sungguh sampai menangis dan berteriak Frater gimana kalau kita tak bisa keluar?
Tenanglah, kita pasti akan bisa keluar.
Sebagian besar dari mereka justru semakin panik dan menjerit. Aku pun sempat merasa panik waah anak-anak tampaknya mersa sungguh ketakutan. Maka aku mencoba teriak ke luar kelas minta tolong.
Tolong...tolong!!Tiba-tiba datanglah guru sebelah yang tadi sempat jenggkel melihat kami bermain serta dua orang bapak guru lainya yang mendengar teriakanku minta tolong. Usaha keras bapak-bapak dan ibu guru itu pun tak membuahkan hasil.
Waaah ini tampaknya sulit untuk dibuka dan barangkali kita harus memaksanya untuk membuka.Mendengar seruan para guru yang berusaha untuk membukakan pintu itu, anak-anak semakin bertambah panik.
Mamaa...Mamaaa....Mamaaaaaa..Aku nggak bisa keluaaaar, tolong maaaaaaaa!!!
Situasi semakin gaduh dan panik. Lalu tiba-tiba datang dua orang satpam sekolahan itu dengan membawa linggis dan palu. Kedua satpam itu datang dengan berlari.Tolong paak! Tolooooong!
Tolong paaak!
Itulah teriakan anak-anak yang tampaknya sungguh semakin ketakutan bak para korban yakni saudara saudara kita yang ada di Bali saat itu, yang terperangkap dalam sebuah ruangan ketika gempa bumi yang berskala 6,1 mengguncang desa dan terlebih tempat tinggal mereka. Ketika pintu berhasil dibuka oleh bapak-bapak satpam yang baik hati itu, bersamaan itu pula kurang lebih 9 sembilan anak yang termasuk njerit-njerit tadi terhempas bergulingan saling menimpa, sebab ketika para satpam tadi berusaha untuk membukanya, mereka tampaknya berusaha untuk mendorong pintu itu. Namun tak satu dari kesembilan anak itu yang merasa kesakitan, namun justru tertawa puas.Mengapa mereka tertawa puas?
Mereka lebih bahagia karena apa yang membelenggunya kini terlepaskan, rasa sakitpun sampai-sampai tak tersasakan.
Langganan:
Postingan (Atom)
